Wednesday, March 15, 2017

the "right" partner

when you ask Allah for the right partner, one thing you SHOULD say outloud in your prayers. be him a person who always, always remember and fear Allah no matter what. he will become your imaam for the rest of your life, it is very important that he always feels concious of what he does, based on the true guidance in Islam. i know no one is perfect, but if he remembers Allah, fears of Him, you will feel peaceful in every second you're going through with him. Because you know you're in the right hand.

i admit sometimes i regret everything. But when i do, i know it's because who i am, what i did, and what i was. Allah always match the right partner for you. Good man for good woman, Bad man for bad woman. it is the perfect time for me to reflect myself, did i do something unpleasent to God? or did i lack some knowledge in something? i will try harder not to blame anybody. i will try to just look broader into my own self even though it is hard.

so many promises i made, so many times i wish i had a chance to go back in time. but i know Allah knows what is best for me, He already has a perfect scenario for me. i just need to hold on and try harder. be positive and be grateful. yup. be grateful. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah

-i'm writing this based on my mood everytime i tell my husband to go to the masjid for a prayer, no idea if it's related or not 

Saturday, November 5, 2016

Conceiving part 2

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hi blog, long time no see :*

Hari ini saya bersyukur, sangat bersyukur. Tidak yakin juga karena hal spesifik apa saya menulis ini dengan rasa syukur yang dalam, bahkan semua hal yang saya alami akhir-akhir ini telah membawa saya pada titik dimana saya menulis menggunakan kata baku hahaha :P walau kayaknya pasti ada campuran kata gaul juga yaa hehe

Mungkin karena faktor umur, atau mungkin karena saya sudah bosan dengan semua kekurangan ilmu yang saya miliki, saya ingin berubah menjadi lebih baik dengan modal awal merubah pola pikir dan cara saya berkomunikasi, walaupun hanya dengan blog pribadi. Bismillah

Jadi... apa sih yang sebenarnya mau saya ceritakan hari ini? Jujur saya sudah jarang sekali mengisi luapan hati dan pikiran ke dalam tulisan, khususnya di blog pribadi. Terlalu banyak alasan, sok sibuk, lupa dan malas mikir. Tapi saya percaya, menulis sebetulnya adalah kebutuhan bagi diri saya, walaupun tulisannya berantakan. Tapi saya mau ada kenangan yang akan saya tertawakan di masa depan, tentang diri yang dulunya "buruk" menjadi jauh lebih baik. Eh kok jadi ga nyambung sama judulnya.. hehe

So, life after becoming a wife. Hmm.. sepertinya judulnya sangat terlambat alias basi karena umur pernikahan saya sudah mencapai 2 tahun 9 bulan, yang mana saya pikir sudah terlalu lama untuk sebuah awal evaluasi kerja. Yah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sebenernya saya ingin menitik-beratkan pada satu topik, yaitu anak. Pada awalnya jujur saja di 3 bulan pertama pernikahan saya memang ingin menunda memiliki anak. Dulu perkiraan saya, mungkin saya akan benar-benar siap pada bulan ke-6 untuk memikirkan anak. Ketidaksiapan saya lebih mengarah pada faktor umur suami, yang lebih muda 1 tahun dibanding saya :( pada saat itu saya berfikir saya belum siap secara mental, apalagi suami saya. Walaupun sering suami saya menyebutkan ingin cepat menimang bayi laki-laki. Dalam hati saya membayangkan ingin puas "pacaran" dulu sebelum akhirnya kehidupan kami diisi dengan suara tangis bayi kami.

Waktu terus berjalan, sampailah kami di usia pernikahan 1 tahun. Dan tanda kehadiran bayi itu belum muncul juga. Pada saat itu jujur saja saya masih menganggap remeh urusan anak. Hanya sekedar ingin membahagiakan suami dan orang tua dengan kehadiran bayi yang lucu. Saya masih sering iri melihat teman yang baru menikah tapi sudah hamil, atau teman yang menikah di saat yang sama dengan saya sudah melahirkan anaknya. Semua saat itu hanya sebatas iri, nafsu, dan rasa kesal pada diri sendiri. Sampai akhirnya tekanan itu merusak tubuh saya sendiri. Berat badan saya naik hampir 15 kg dari berat saya saat menikah. Saat itu saya pikir itu hanya hasil dari rasa bahagia saya karena sudah menikah dengan orang yang saya cintai. Ternyata salah, kenaikan berat badan yang sangat drastis itu adalah hasil dari kebodohan diri saya sendiri. Yang tidak mampu mengontrol alur hidupnya sendiri.

Waktu terus berjalan, saya sudah bosan menceritakan berbagai macam prosedur medis apa yang sudah saya jalani, obat apa saja yang sudah saya minum untuk dapat melihat dua garis di alat tes kehamilan. Jujur saja saya sudah bosan. Dalam 2 tahun pernikahan ini saya merasa saya dibenci Allah, Allah telah menghukum saya atas dosa saya selama ini dengan menunda hadirnya anak dalam kehidupan saya dan suami. Saya pikir, saya tidak akan pernah bisa ikhlas dengan perjuangan saya. Dulu semua dokter saya datangi, semua obat saya minum, walapun harus menempuh perjalanan ke luar kota setiap 2 minggu sekali menggunakan mobil, dan pernah sampai ke luar pulau pun saya jalani. Semua itu bukan dengan uang yang sedikit, yang saya tau sekali itu adalah hasil dari keringat suami saya, yang mana bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat apabila bukan digunakan untuk biaya ke dokter. Dulu itu pikir saya. Saya sangat perhitungan dengan Allah. Saya sangat pesimis. Saya sering membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain. Saya putus harapan.

Sekarang, mungkin saya sudah berada dalam tahapan dimana saya sudah mulai bisa merelakan apabila Allah memang menguji saya, menguji kesabaran saya. Saya akan berusaha berprasangka baik terhadap Allah swt. Mungkin Dia ingin saya menyelesaikan beberapa persoalan lain (yang memang sangat berat bagi saya dalam 2 tahun terakhir ini), yang mana saya tahu saya tidak akan bisa menyelesaikannya dalam keadaan hamil, mungkin itu akan memberikan efek buruk bagi janin apabila saya sudah diberi kesempatan oleh Allah dalam menyelesaikan urusan-urusan tersebut. Mungkin Allah punya rencana lain yang lebih indah untuk saya. Kadang, disaat saya sedang bertengkar dengan suami (ga boong pasti setiap pasangan pernah berantem, mau gede mau kecil pasti yaaa) saya berfikir Allah masih ingin kami belajar dulu untuk lebih dewasa sebelum mengurus anak kami.

Intinya, sekarang saya ingin fokus dulu terhadap diri saya sendiri. Terhadap hubungan saya dengan suami, yang mana saya akui sangat mudah digoyahkan karena adanya masalah "anak". Sejujurnya, saya sangat sedih melihat suami sering menyabarkan saya saat saya "down" dan putus asa, saya tahu dia pun sangat kecewa. Saya tahu dia pun menutupi kekecewaan itu di depan saya agar saya tidak terbebani dan sakit hati, walau pernah beberapa kali dia pun marah karena upaya saya belum maksimal dalam berusaha menjaga kesehatan saya agar mendapatkan kondisi ideal untuk hamil. Saya sudah bosan bertengkar, marah, dan sudah habis air mata ini tumpah untuk urusan menyalahkan diri sendiri dan juga Allah dalam urusan anak. Saya ingin semua usaha saya sesuai dengan cara yang Allah ridhoi, dengan hati yang tenang, ikhlas, ridho, dan sabar. Dan insya Allah saya sedang dalam usaha mengonsumsi jamu dan obat tradisional, juga saya akan rajin berolah-raga dan menjaga asupan gizi yang seimbang.

Semoga Allah meridhoi usaha saya (part 2). Semoga saya bisa mengatur ulang hidup saya dengan alur yang lebih baik, dengan sistem yang Allah ridhoi, dengan keberkahan dan kebermanfaatan. Semoga sisa umur saya tidak sia-sia, semoga suami saya dapat menjadi ayah suatu saat kelak dengan izin Allah. Dan semoga, pada saat itu, pada saat kami menjadi orang tua, kami sudah siap dan menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami. Semoga Allah mengabulkan doa kami. Aamiin ya Rabbal'alamiin.





Tuesday, May 3, 2016

me blaming? no dear. it's life sorting

Bismillahirrahmaanirrahiim...

The story i want to tell today, is one of the frequent thing that comes to my head everytime i wake up and at the moment before i go to bed. It's about "D", yeah you may call it that way but i'm sure you understand it right away. I just want to tell you, my blog, that this is not about grudge, revenge, or greed. It's about telling you the truth, keeping my memory clear for 10 years to come, washing away my stress, and trying to figure out what should i do now. i might sound like a coward complaining about life, it does not matter, this blog is completely mine.

You know, bloggy. I've never told you briefly about this thing D did to me or what i did to D all these years. It's kinda something that i dont want to talk to you about, it's just so energy-consuming. Many times i want to talk it out, it just never happened. Well, sometimes because i think i better figure it out quickly and by myself, no need to tell anyone. By anyone i mean you, not my husband he is a good listener.

So yeah, this D thing was and still is my dream come true. i've dreamed about owning this D when i was still in high school. I thought it was the best thing i could have and the coolest thing to do for the rest of my life. Not just because i love to eat (now you know it has something to do with food), it's also a nice way to do business and hobby at the same time. But the fact is, after my friends and i accomplished on making it come to life, things were not as easy as i thought. Problems came like a storm, they didn't line up, they come together as a ball. Fortunately we solved it one by one, with only our small power, little money, tiny knowledge and experience. Those time were like one of the best yet one of the worse time in my life - worse reffering to the pressure of course.

You know what, at that time before we began any of our moves, some people have warned me about the business, the team work, and the risks. It was just too heavy to take at that time, but it was also too big to reject. So i decided to let the thoughts go away for a while. Well actually we ended up protecting ourselves with legals and all that stuff necessary. But still, my heart bears so much burden. As if i know something bad was about to happen.

Well i mean we could almost handle every problem we had, it was not that hard. But one thing i felt was like a ticking bomb, it's our team work. It started good, everyone handled their own tasks  without making a fuss. As nearly a year, i felt like someone is missing out the work load. It obvious when everybody handled too much things, but someone handled nothing. So we evened out the load and it seemed pretty well. I dont want to brag but at that time things moved so quickly, one problem solved after another and good response from the customer gave us strenght. But i said that was just the beginning, nothing will ever go up constantly without innovation, means we should keep fighting and try harder, no need to rest.

But you know what, the one who supposed to think and work the hardest, the one who was supposed to wake up before everyone is awaken, and sleep after everyone is asleep, he was nowhere to find. Only presented when asked, only did his task when assigned. No thinking, no working, no trying, no struggling, no nothing. Not suprised one of us walked away under this called regime. I wanted to go also if it's not for the responsibilities. We know things will not go always smooth, it takes a huge effort to maintain a stability that we almost fainted to get. Nothing comes free in this world.

Am i wrong if i ask him to work and do his own task? i mean he is all theory. he says everything business. But in my ears, it's all bullsh*t, i couldn't bear hearing it. Just to say it easy, he always brags about "his" accomplishment and seems to be so proud of it while actually, in my small eyes, it was none of his work. None. Except for the scrubby little things. Ok you will judge me saying all i do is just blaming someonle else for the bad things that happened. No dear, i kept it in my head for over 3 years and i did my job, my husband did his job, our ex-co-worker's job and also this guy's job. What a wonderful employee my husband.

Until this january, i couldn't stand seeing the business kept falling and nothing good came in. I just couldn't bear the fact that someone is getting a free ride on this business we worked so hard on. I don't care about the publicity or what everyone thinks of me regarding this business. But i will never let anyone using and destroying D for his own fun. D is like my child.

We came to a decision. If he was gonna change for a better worker, then it's the best solution. But if he's not, then it's going to be him or ME to step away from D. D can't contain 2 opposite visions in one body. It's too much for D.

So that's it. 3 months past and nothing changed. It's decision time. He did nothing, my husband and i did everything, so you gotta see a point by now. I waited for the statement, none. So i make one. I said maybe it's best for me to let things go now. I thought perhaps i better just learn how to be a good wife and mother instead. I let go things easily. No burder. It's such a pleasure. Although deep down i can't keep my heart away from D, but it's for the good. No one knows what i will do for now except God. I have so much plans in my head i have to sort it out and take time. I feel pity for my husband, he is a nice man and a clever professional partner. He never complains, not like me. I hope something good will come to my husband now, he already bears so much burden on his shoulders.

Note: this is one of the "sad" experience in working in team, especially to have your husband as one of your co-worker. But i'll post some of the "wonderful" experience next time.


Thursday, March 31, 2016

1st post after being married, tsah

Assalamualaikum blog tercinta...
Ga nyangka postingan terakhir sebelum ini udah hampir 3 tahun lebih, dulu bahkan belum punya pacar, sekarang udah 2 tahun nikah. hahaha

Ga ngerti gimana pas punya pacar tuh ga kepikiran nulis blog lagi, soalnya udah punya temen curhatan langsung wkwkwk. pas udah nikah pun ga keinget sama blog, udah nempel duluan sama suami haha. sebenernya sih buanyak banget yang pengen dicurhatin selama 2 tahun nikah. cuma ya itu, antara lupa dan udah keburu basi. kalo bisa disebut pernikahan 2 tahun itu kayak roller-coaster. naik-turun susah-senang semuanya nyampur. dari mulai perkenalan awal sampai tau dalem-dalemnya suami, dari mulai kangen sampe bosen lagi. apalagi pas banget kita belum dikasih momongan, masih berdua aja macam ABG masih pacaran wahaha

Hmm.. sebenernya nyolek si blog lagi karena disuruh suami buat bikin catatan tentang perjalanan kita menunggu si baby hehe.. soalnya udah datang ke 5 dokter dan udah minum berjuta obat, biar ada record nya gituh. dan pas banget juga kemarin abis ke pekanbaru memberanikan diri ke dokter yang nge-hits walaupun banyak banget cobaan pas mau kesana.. huuuh haaah... oke curhat dimulai

dulu awal nikah berat badan gue 58 kg (percaya gaaaa???) udah lumayan ideal banget buat badan gue yang cuma tinggi 162 cm dan tulang yang gede gede. dan sekarang bb gue 77 kg (hahaha lebih ga percaya kaaan??) ga ngerti gimana setelah nikah gue kayak monster apa aja gue makan, ditambah lagi suami ga begitu doyan makan, jadilah sisa makanannya gue yang ngabisin -_-
suami bahkan ga naik berat badan sama sekali selama nikah, kalopun nambah turunnya lebih banyak lagi, asik yeee

trus lanjut ke masalah kesuburan sayah nih. jadi emang dari awal sebelum nikah pun haid ga lancar, dulu jaman SMA pernah dapet 4 bulan sekali. nah makin kesini makin parah nih karena makin endut. tahun kemarin 2015 aja haid cuma bulan maret, juli, sama november, dan baru kemarin haid lagi. zzzzz. karena emang hormon haid ngaruh banget sama berat badan, kalo kegendutan makin susah hamil huweee

pertama kali ke dokter kandungan itu di RS Bunda Margonda, di usg katanya rahimnya sempit, sel telur nya sedikit, ga ada yang mateng. okeeeh... tapi jujur saja saya ga ngerti pas saat itu. dokternya buru-buru amat ngejelasinnya. akhirnya pindah dokter ke RS Hermina depok pas ulang tahun suami tanggal 22 april 2015, kirain mah telat haid bisa ngasih kado ultah terindah, tau-taunya belum juga... hiks. dokter yang ini lumayan lama penjelasannya, tapi malah jadi tambah pusing. pokoknya katanya karena gendut lemaknya jadi gangguin sel telurnya buat mateng, jadi pada bantet :( seperti biasa disuruh diet. aduuuuuh jujur saya paling stress kalo disuruh diet, susah banget turun tapi naiknya gampang banget.

lanjut akhirnya balik lagi ke dokter gizi (langganan) di RS Permata cibubur, sekalian minta menu buat promil juga, tapi ternyata ga bertahan lama. pusing ga bisa keep up sama jadwal dan emang ga bisa ngatur menu juga. susyeh ye. akhirnya tuh berat badan tetep deh di angka segituan.

lanjut lagi akhirnya pindah ke dokter lain walaupun sama di rs hermina depok pas bulan oktober, soalnya pas banget gue lagi kena kasus keputihan gara-gara cream aneh akhirnya nyerang si bagian bawah dan itu sakit bangeeeet. dikasih obat masuk gitu dan belum promil lagi. lanjut ke bulan desember gue terserang kasus keputihan lagi tapi lebih paraaah. serem banget akhirnya dadakan ke dokter kandungan di RS Hermina jatinegara. saking sakitnya pas diobatin sampe nangis di ruangan dokter, dikasih albotyl dong v nyaaa huweeeee... tes lab nya pun banyak banget ada 3 jenis dan ga main-main ngabisin doku hampir 4 jete :(( maaf ya suamiku sayang. alhamdulillah sekarang udah agak sembuh walau kadang kambuhan lagi kalau stress. hiks

setelah kemarin anniversary ke-2 pernikahan kita, akhirnya Allah kasih kesempatan untuk berobat lagi ke pekanbaru, ke dr.suryo yang nge-hits banget dari blog dan fb nya. sebenernya sekalian sama kondangan temen kuliah, eh malah ga dateng ke kondangan nya gara-gara ketinggalan pesawat, haduuuuuh

kemarin di-tes HSG sama dokternya buat cek salurannya tersumbat apa ga, gw ga tau bakal se-sakit ituuu. pas alatnya dimasukin (biasa di dokter lain ga se-sakit itu, kemarin pas banget lagi keputihan jadi sakitnya triple) rasanya wow parah kayak dirobek tapi ga pake ancang-ancang :(( dan pas obatnya dimasukin rasanya astaghfirullaaah.. sakitnyaaaa. rasanya mules kayak perut dicopot-pasang terus-terusan huweeeee. bener-bener sakit kayak orang melahirkan, sampe dokter susternya gue teriakin saking sakitnya, udah banjir nangis kayak di sinetron. suami pun bingung mau ngapain soalnya dia cuma bisa doa dan nonton doang hiks. itu 15 menit terlama dan tersakit sepanjang hidup gue. suer ga boong tobat deh. tapi Alhamdulillah ya Allah.. ternyata salurannya aman lancar ga ada sumbatan. semaleman ga bisa gerak saking sakitnya, cuma bisa angkat jari doang. dan sakitnya masih berlanjut sampe hari ke-4 hiks hiks

obatnya? jangan ditanya... super banyaaaaak. dan harus diet ketat!! yak Bismillah bu ciah! mudah-mudahan dalam 2 bulan ini bisa positif hamil dan sehat terus sama debay nya, ga tega sama suami yang udah sabar banget nemenin si istri yang rese dan banyak banget pengeluarannya.. i love you husband!

*postingan ini ditulis dalam keadaan mabok dan lemes gara-gara banyak minum obat dan post-HSG jadi agak-agak ngalor ngidul nulisnya hihi

semangat hamil 2016!