Saturday, November 5, 2016

Conceiving part 2

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hi blog, long time no see :*

Hari ini saya bersyukur, sangat bersyukur. Tidak yakin juga karena hal spesifik apa saya menulis ini dengan rasa syukur yang dalam, bahkan semua hal yang saya alami akhir-akhir ini telah membawa saya pada titik dimana saya menulis menggunakan kata baku hahaha :P walau kayaknya pasti ada campuran kata gaul juga yaa hehe

Mungkin karena faktor umur, atau mungkin karena saya sudah bosan dengan semua kekurangan ilmu yang saya miliki, saya ingin berubah menjadi lebih baik dengan modal awal merubah pola pikir dan cara saya berkomunikasi, walaupun hanya dengan blog pribadi. Bismillah

Jadi... apa sih yang sebenarnya mau saya ceritakan hari ini? Jujur saya sudah jarang sekali mengisi luapan hati dan pikiran ke dalam tulisan, khususnya di blog pribadi. Terlalu banyak alasan, sok sibuk, lupa dan malas mikir. Tapi saya percaya, menulis sebetulnya adalah kebutuhan bagi diri saya, walaupun tulisannya berantakan. Tapi saya mau ada kenangan yang akan saya tertawakan di masa depan, tentang diri yang dulunya "buruk" menjadi jauh lebih baik. Eh kok jadi ga nyambung sama judulnya.. hehe

So, life after becoming a wife. Hmm.. sepertinya judulnya sangat terlambat alias basi karena umur pernikahan saya sudah mencapai 2 tahun 9 bulan, yang mana saya pikir sudah terlalu lama untuk sebuah awal evaluasi kerja. Yah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sebenernya saya ingin menitik-beratkan pada satu topik, yaitu anak. Pada awalnya jujur saja di 3 bulan pertama pernikahan saya memang ingin menunda memiliki anak. Dulu perkiraan saya, mungkin saya akan benar-benar siap pada bulan ke-6 untuk memikirkan anak. Ketidaksiapan saya lebih mengarah pada faktor umur suami, yang lebih muda 1 tahun dibanding saya :( pada saat itu saya berfikir saya belum siap secara mental, apalagi suami saya. Walaupun sering suami saya menyebutkan ingin cepat menimang bayi laki-laki. Dalam hati saya membayangkan ingin puas "pacaran" dulu sebelum akhirnya kehidupan kami diisi dengan suara tangis bayi kami.

Waktu terus berjalan, sampailah kami di usia pernikahan 1 tahun. Dan tanda kehadiran bayi itu belum muncul juga. Pada saat itu jujur saja saya masih menganggap remeh urusan anak. Hanya sekedar ingin membahagiakan suami dan orang tua dengan kehadiran bayi yang lucu. Saya masih sering iri melihat teman yang baru menikah tapi sudah hamil, atau teman yang menikah di saat yang sama dengan saya sudah melahirkan anaknya. Semua saat itu hanya sebatas iri, nafsu, dan rasa kesal pada diri sendiri. Sampai akhirnya tekanan itu merusak tubuh saya sendiri. Berat badan saya naik hampir 15 kg dari berat saya saat menikah. Saat itu saya pikir itu hanya hasil dari rasa bahagia saya karena sudah menikah dengan orang yang saya cintai. Ternyata salah, kenaikan berat badan yang sangat drastis itu adalah hasil dari kebodohan diri saya sendiri. Yang tidak mampu mengontrol alur hidupnya sendiri.

Waktu terus berjalan, saya sudah bosan menceritakan berbagai macam prosedur medis apa yang sudah saya jalani, obat apa saja yang sudah saya minum untuk dapat melihat dua garis di alat tes kehamilan. Jujur saja saya sudah bosan. Dalam 2 tahun pernikahan ini saya merasa saya dibenci Allah, Allah telah menghukum saya atas dosa saya selama ini dengan menunda hadirnya anak dalam kehidupan saya dan suami. Saya pikir, saya tidak akan pernah bisa ikhlas dengan perjuangan saya. Dulu semua dokter saya datangi, semua obat saya minum, walapun harus menempuh perjalanan ke luar kota setiap 2 minggu sekali menggunakan mobil, dan pernah sampai ke luar pulau pun saya jalani. Semua itu bukan dengan uang yang sedikit, yang saya tau sekali itu adalah hasil dari keringat suami saya, yang mana bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat apabila bukan digunakan untuk biaya ke dokter. Dulu itu pikir saya. Saya sangat perhitungan dengan Allah. Saya sangat pesimis. Saya sering membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain. Saya putus harapan.

Sekarang, mungkin saya sudah berada dalam tahapan dimana saya sudah mulai bisa merelakan apabila Allah memang menguji saya, menguji kesabaran saya. Saya akan berusaha berprasangka baik terhadap Allah swt. Mungkin Dia ingin saya menyelesaikan beberapa persoalan lain (yang memang sangat berat bagi saya dalam 2 tahun terakhir ini), yang mana saya tahu saya tidak akan bisa menyelesaikannya dalam keadaan hamil, mungkin itu akan memberikan efek buruk bagi janin apabila saya sudah diberi kesempatan oleh Allah dalam menyelesaikan urusan-urusan tersebut. Mungkin Allah punya rencana lain yang lebih indah untuk saya. Kadang, disaat saya sedang bertengkar dengan suami (ga boong pasti setiap pasangan pernah berantem, mau gede mau kecil pasti yaaa) saya berfikir Allah masih ingin kami belajar dulu untuk lebih dewasa sebelum mengurus anak kami.

Intinya, sekarang saya ingin fokus dulu terhadap diri saya sendiri. Terhadap hubungan saya dengan suami, yang mana saya akui sangat mudah digoyahkan karena adanya masalah "anak". Sejujurnya, saya sangat sedih melihat suami sering menyabarkan saya saat saya "down" dan putus asa, saya tahu dia pun sangat kecewa. Saya tahu dia pun menutupi kekecewaan itu di depan saya agar saya tidak terbebani dan sakit hati, walau pernah beberapa kali dia pun marah karena upaya saya belum maksimal dalam berusaha menjaga kesehatan saya agar mendapatkan kondisi ideal untuk hamil. Saya sudah bosan bertengkar, marah, dan sudah habis air mata ini tumpah untuk urusan menyalahkan diri sendiri dan juga Allah dalam urusan anak. Saya ingin semua usaha saya sesuai dengan cara yang Allah ridhoi, dengan hati yang tenang, ikhlas, ridho, dan sabar. Dan insya Allah saya sedang dalam usaha mengonsumsi jamu dan obat tradisional, juga saya akan rajin berolah-raga dan menjaga asupan gizi yang seimbang.

Semoga Allah meridhoi usaha saya (part 2). Semoga saya bisa mengatur ulang hidup saya dengan alur yang lebih baik, dengan sistem yang Allah ridhoi, dengan keberkahan dan kebermanfaatan. Semoga sisa umur saya tidak sia-sia, semoga suami saya dapat menjadi ayah suatu saat kelak dengan izin Allah. Dan semoga, pada saat itu, pada saat kami menjadi orang tua, kami sudah siap dan menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami. Semoga Allah mengabulkan doa kami. Aamiin ya Rabbal'alamiin.





No comments:

Post a Comment